
Wow. Malam terakhir sebagai manusia berusia dua puluhan.
Dari tadi aku kepikiran, sebenarnya apa saja yang sudah kulakukan selama sepuluh tahun terakhir? Apa yang sudah berubah? Siapa saja yang masih ada? Dan, yang paling penting, apakah aku cukup puas selama ini?
Setelah dipikir-pikir: yo lumayan juga.
Aku memulai usia dua puluhan dengan menerbitkan buku Yang Sedang Bermain tahun 2016, tidak lama setelah ulang tahunku yang kedua puluh. Kemudian ada Lampu Kota (2018), EP Putih (2018), lirik lagu, Catatan Kecil dari Sudut Kamar (2020), dan berbagai tulisan serta karya lain yang terus kubuat sampai sekarang.
Kalau dipikir lagi, ternyata aku cukup rajin juga, ya? Hahaha.
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Ada banyak hal yang berubah, tetapi satu hal yang rasanya masih sama: aku selalu punya keinginan untuk membuat sesuatu. Entah itu buku, lagu, puisi, atau sekadar tulisan yang mungkin hanya akan dibaca beberapa orang. Aku senang membuat sesuatu dari apa yang sedang kupikirkan dan kurasakan. Seolah-olah ada bagian dari diriku yang memang harus dikeluarkan melalui karya.
Aku nggak tahu apakah semua karya itu akan bertahan lama. Mungkin ada yang dilupakan, mungkin ada yang suatu hari bakal ditemukan kembali oleh seseorang. Gak popo. Setidaknya aku pernah membuatnya. Setidaknya ada sesuatu yang bisa kutunjuk dan kukatakan, “Oh, ini pernah menjadi bagian dari hidupku.”
Selain berkarya, tentu saja ada banyak drama kehidupan yang kalau dijadikan serial mungkin sudah sampai beberapa season.
Salah satunya soal pertemanan.
Selama sepuluh tahun ini, aku kehilangan cukup banyak teman. Ada yang dulunya dekat sekali, ada yang pernah kupikir akan terus menjadi bagian dari hidupku, ada pula yang hubungannya perlahan menghilang begitu saja. Sebagian pergi dengan penjelasan, sebagian lainnya tidak. Ada yang masih sesekali menyapa, ada yang mungkin sekarang sudah tidak tau lagi kabar masing-masing.
Dulu, hal-hal seperti itu cukup ngebuat overthinking berlebihan. Aku sering mengintrogasi diri sendiri, apa salahku? Apa aku terlalu banyak berharap? Apa aku terlalu sensitif? Apa ada sesuatu dariku yang ngebuat orang lain nggak nyaman?
Lucunya, selama bertahun-tahun aku seperti terbiasa menempatkan diri sebagai orang yang harus lebih dulu mengerti. Kalau ada masalah, aku yang harus mengevaluasi diri. Kalau ada yang menjauh, aku yang harus mencari tahu kesalahanku. Kalau ada hubungan yang memburuk, aku yang harus mempertanyakan apakah aku memang seburuk itu. Cok.
Sampai akhirnya aku sadar, mosok aku terus-terusan harus menjadi terdakwa dalam setiap hubungan yang gagal?
Aku nggak sedang mengatakan kalau aku selalu benar. Jelas tidak. Aku juga manusia yang pernah salah bicara, salah bersikap, punya ego, dan mungkin pernah mengecewakan orang lain. Aku tidak punya niat untuk menulis ulang masa lalu seolah-olah semua orang yang pernah pergi adalah orang jahat dan aku adalah korban.
Tapi sekarang aku mengerti satu hal: aku nggak boleh lagi menempatkan diri sebagai penyebab dari sesuatu yang berakhir buruk.
Ada hubungan yang memang tidak cocok. Ada orang-orang yang ternyata tidak bisa berjalan bersama dalam waktu lama. Ada perbedaan cara berpikir, cara memperlakukan orang, dan cara memahami pertemanan. Dan ada kalanya, ya sudah, memang sampai di situ saja.
Aku nggak harus terus mencari kesalahan dalam diriku hanya supaya bisa menemukan alasan mengapa seseorang memilih pergi.
Aku juga mulai belajar bahwa menjadi teman yang baik bukan berarti harus selalu menjadi orang yang menghubungi lebih dulu. Tidak harus selalu mengajak, mengingat, memahami, atau menyediakan waktu. Pertemanan seharusnya tidak terasa seperti pekerjaan tambahan yang hanya dikerjakan satu orang.
Aku ingin punya hubungan yang sederhana. Bisa saling menghubungi tanpa harus menghitung siapa yang terakhir mengirim pesan. Bisa bertemu tanpa merasa sedang mengikuti ujian kelayakan pertemanan. Bisa menjadi diri sendiri tanpa harus terlalu sibuk memikirkan apakah keberadaanku mengganggu orang lain.
Kalau ternyata tidak semua orang bisa memberikan hal semacam itu… yo wis.
Mungkin lingkaran pertemananku memang semakin kecil, tetapi aku nggak mau lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang menyedihkan. Toh, aku masih punya banyak kesempatan buat ketemu orang baru. Masih ada banyak cerita yang belum kudengar dan banyak orang yang belum kukenal.
Aku nggak mau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk meratapi pintu yang sudah tertutup sampai lupa bahwa masih ada banyak pintu lain yang bisa diketuk.
Belakangan ini aku juga semakin menikmati melakukan banyak hal sendirian. Pergi ke bioskop, makan di restoran, menonton pertunjukan, datang ke acara puisi, mampir ke toko buku, atau sekadar berjalan-jalan tanpa harus menunggu seseorang punya waktu yang sama.
Dulu mungkin aku berpikir bahwa pengalaman akan terasa lebih menyenangkan kalau ada orang lain yang ikut menikmatinya. Sekarang aku tahu bahwa menyenangkan atau tidaknya sebuah pengalaman tidak selalu ditentukan oleh siapa yang menemani.
Kadang-kadang, punya waktu untuk diri sendiri itu sudah cukup.
Dan bukan berarti aku tidak ingin punya teman, pasangan, atau orang-orang yang bisa diajak berbagi cerita. Tentu aja aku pengen! Aku masih pingin jatuh cinta, ketemu orang-orang menarik, punya percakapan panjang sampai lupa waktu, dan menemukan pertemanan yang bisa bertahan lama.
Aku hanya nggak mau lagi menjadikan keinginan-keinginan itu sebagai alasan untuk merasa hidupku kurang lengkap.
Ada banyak hal yang masih pingin kulakukan. Aku pingin menerbitkan lebih banyak buku, menulis lebih banyak lagu, mengerjakan proyek-proyek kreatif, mengunjungi tempat-tempat baru, dan mungkin menemukan lingkungan yang membuatku merasa benar-benar diterima.
Aku mau lebih sering bilang iya pada pengalaman baru dan lebih berani bilang tidak pada hal-hal yang ternyata kurang baik.
Aku juga berharap berhenti terlalu keras kepada diri sendiri. Tidak semua hal harus selesai sekarang. Tidak semua orang harus mengerti keputusanku. Tidak semua pengalaman harus menghasilkan pelajaran yang bisa ditulis menjadi puisi. Hahaha.
Kadang-kadang, ya memang cuma capek. Kadang-kadang, kita cuma butuh tidur, makan enak, mendengarkan musik, dan membiarkan hari berlalu.
Aku nggak tahu apakah usia tiga puluhan akan lebih mudah. Bisa jadi justru lebih banyak tantangannya. Mungkin akan ada kehilangan lagi, kegagalan baru, keputusan-keputusan yang sulit, dan hal-hal yang sekarang bahkan belum kepikirkan.
Tapi aku mau memasuki usia ini dengan sedikit lebih tenang.
Aku nggak pingin lagi sibuk membuktikan bahwa aku pantas berada di kehidupan seseorang. Tidak ingin terus-menerus meminta maaf hanya karena punya perasaan. Tidak ingin merasa harus mengecilkan diri supaya orang lain nyaman.
Aku ingin tetap menjadi Awan yang suka menulis, suka membuat sesuatu, suka memperhatikan hal-hal kecil, dan kadang-kadang terlalu banyak mikir sampai mumet dewe.
Kalau ada yang datang, semoga bisa saling menjaga. Kalau ada yang pergi, semoga aku tidak lagi menganggapnya sebagai akhir dari segalanya.
Sepuluh tahun terakhir ternyata sudah memberiku cukup banyak cerita. Ada karya yang bisa kubanggakan, ada kenangan yang ingin kusimpan, ada orang-orang yang kusayangi, dan ada pengalaman yang sepertinya tidak perlu kuulang lagi.
Aku cukup bangga sama aku yang sekarang. Bukan karena semuanya sudah berhasil, bukan karena hidupku sudah sesuai rencana, tetapi karena aku masih punya banyak keinginan. Aku masih penasaran dengan kehidupan. Aku masih mau nyobain banyak hal.
Dan menurutku, itu menyenangkan.
Untuk diriku yang berusia dua puluh tahun: terima kasih sudah memulai semuanya. Untuk diriku yang berusia dua puluh sembilan tahun, matur nuwun wis kuat sampai sejauh iki.
Kita sudah melewati banyak hal, rek.
Besok, kita mulai lagi. Tidak perlu buru-buru menjadi manusia yang lebih hebat. Tidak perlu mengejar kehidupan orang lain. Kita jalani saja, pelan-pelan, sambil tetap membuat sesuatu yang kita sukai.
Selamat tinggal, usia dua puluhan. Muah.