Rahmad Kurniawan

• •

⏃ Wes, Mad. Wes.

Bagian belakang truk dengan tulisan 'tenangno pikiranmu mad'

Aku capek. Beneran capek.

Bukan cuma sama orang lain, tapi juga sama pikiranku sendiri. Sama kebiasaan memikirkan sesuatu yang sebenarnya mungkin sudah selesai buat orang lain, tapi entah kenapa masih terus muter di kepalaku. Sama percakapan-percakapan yang nggak pernah terjadi, kalimat-kalimat yang nggak pernah terucap, dan skenario-skenario yang kubikin sendiri seolah-olah suatu hari nanti aku bakal punya kesempatan untuk mengatakan semuanya. 

Padahal, ya… nggak bakal.

Atau setidaknya, aku nggak ingin itu terjadi.    

Aku sudah sampai di titik ketika menjelaskan perasaanku kepada orang yang membuatku kecewa terasa seperti pekerjaan yang sia-sia. Buat apa? Supaya dia mengerti? Supaya dia tahu bahwa sikapnya menyakitiku? Supaya dia akhirnya sadar bahwa selama ini aku menganggap pertemanan kami lebih dari sekadar kenal dan sesekali menghabiskan waktu bersama?

Entahlah. Aku sudah nggak punya tenaga untuk mencari tahu.                       

Ada sesuatu yang terasa menyedihkan ketika kita harus menjelaskan kepada seseorang mengapa kita pantas diperlakukan dengan baik. Seolah-olah aku harus mengajukan alasan, menyusun bukti, lalu menunggu keputusan apakah perasaanku cukup masuk akal untuk dipertimbangkan.

Lha, aku ini siapa? Kok sampai harus segitunya supaya dianggap teman?

Aku nggak minta diprioritaskan setiap saat. Nggak minta selalu dicari, selalu diajak, atau selalu menjadi orang pertama yang diingat. Aku paham setiap orang punya kehidupan masing-masing. Punya kesibukan, lingkaran pertemanan, dan urusan yang jauh lebih penting daripada memikirkan apakah aku baik-baik saja. 

Aku cuma ingin merasa bahwa pertemanan itu berjalan dua arah. Bahwa perhatian yang kuberikan nggak selalu berhenti di aku. Bahwa ketika aku menganggap seseorang sebagai teman dekat, aku nggak sendirian dalam menganggap hubungan itu berarti.  

Ternyata, harapan sesederhana itu pun bisa bikin kecewa.      

Dan mungkin yang paling menyakitkan bukan satu kejadian tertentu, melainkan semua hal kecil yang perlahan-lahan mengubah caraku memandang seseorang. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya aku duduk sendiri dan menyadari bahwa mungkin selama ini aku yang terlalu menganggap dekat.   

Aku yang mengingat.

Aku yang mengusahakan.

Aku yang mencoba memahami ketika ada sesuatu yang terasa janggal.

Aku juga yang sibuk mencari alasan supaya semuanya tetap masuk akal.         

Mungkin dia memang begitu orangnya.

Mungkin dia nggak bermaksud menyakiti.

Mungkin aku saja yang terlalu berharap.         

Jujur ae, aku capek harus terus mencari alasan untuk memaklumi orang lain, sementara aku sendiri harus berusaha keras memaklumi rasa kecewa.    

Aku tahu, nggak semua orang akan menyayangiku atau menganggapku sepenting aku menganggap mereka. Aku tahu hubungan nggak selalu berjalan sesuai keinginan. Tapi mengetahui semua itu secara teori ternyata nggak membuatnya lebih mudah ketika aku sendiri yang harus menerima kenyataannya.

Apalagi ketika aku sadar bahwa aku sudah memberikan begitu banyak ruang untuk seseorang di hidup, sementara aku bahkan nggak tahu sebesar apa ruang yang dia sediakan untukku.

Rasanya seperti malu kepada diri sendiri.        

Bukan karena pernah peduli. Aku nggak pernah menganggap perhatian sebagai sesuatu yang memalukan. Aku senang bisa menjadi teman yang baik. Aku senang bisa mengingat hal-hal kecil, meluangkan waktu, merencanakan sesuatu, atau membuat orang lain merasa diperhatikan.

Yang bikin sedih adalah ketika semua itu membuatku lupa bertanya kepada diri sendiri:

aku sendiri merasa diperhatikan nggak, ya?

Aku terlalu sibuk memastikan orang lain merasa punya teman, sampai lupa bahwa aku juga ingin merasakan hal yang sama.

Dan sekarang, aku marah.

Aku marah karena kecewa.

Marah karena merasa nggak dianggap.

Marah karena masih saja memikirkan seseorang yang mungkin sedang menjalani hari-harinya seperti biasa, sementara aku di sini harus berusaha keras supaya pikiranku sendiri berhenti mengganggu ketenanganku.

Aku bahkan bisa membayangkan apa yang akan kukatakan kalau suatu hari kami bertemu. Di kepalaku, aku bisa mengatakan semuanya dengan lancar. Aku bisa menjelaskan kenapa aku kecewa, apa yang membuatku marah, dan bagaimana sikap seseorang bisa mengubah sesuatu yang tadinya berarti menjadi sesuatu yang justru ingin kuhindari.

Tapi setelah itu apa?    

Apa aku berharap dia minta maaf?

Apa aku ingin dia merasa bersalah?

Apa aku ingin dia akhirnya sadar bahwa aku pernah menganggapnya sebagai teman yang penting?

Mungkin dulu iya.

Sekarang, aku bahkan nggak yakin masih menginginkan semua itu.    

Aku cuma tahu bahwa aku nggak mau menjelaskan panjang lebar kepada seseorang yang membuatku merasa harus menjelaskan mengapa aku layak menjadi temannya. Aku nggak mau terlihat seperti orang yang mati-matian mempertahankan sebuah pertemanan, sementara orang yang kupertahankan belum tentu merasa sedang memiliki sesuatu yang perlu dipertahankan.

Wis, cukup.     

Bukan berarti aku nggak sakit hati lagi. Bukan berarti semuanya mendadak nggak penting. Aku masih kecewa, masih marah, dan kadang masih kepikiran. Tapi aku mulai sadar bahwa perasaanku nggak harus selalu berujung pada tindakan. Aku boleh marah tanpa harus mengirim pesan. Aku boleh kecewa tanpa harus meminta penjelasan. Aku boleh punya seribu kalimat di kepala tanpa harus memastikan orang yang bersangkutan mendengarnya.

Nggak semua hal harus dibicarakan sampai tuntas.     
Nggak semua hubungan harus ditutup dengan percakapan yang dewasa.        
Dan nggak semua orang akan memberikan penjelasan yang bisa membuat kita berdamai dengan keadaan.

Kadang-kadang, ya sudah… Kita berhenti saja.

Bukan karena kita kalah.         
Bukan karena kita nggak punya sesuatu untuk dikatakan.        
Bukan juga karena kita ingin membuat orang lain penasaran dengan perubahan sikap kita.

Kita berhenti karena sudah terlalu lelah untuk terus mengusahakan sesuatu yang seharusnya nggak terasa sesulit ini. 

Aku juga nggak mau berpura-pura bahwa aku sudah sepenuhnya nggak peduli. Kalau memang masih ada bagian kecil dari diriku yang berharap dia menyadari ini, ya, biarlah. Aku manusia. Aku nggak bisa mengatur semua perasaan supaya langsung sesuai dengan keputusan yang sudah kubuat.

Tapi aku nggak mau lagi hidup cuma berdasarkan harapan itu.

Aku nggak mau menjauh hanya untuk melihat apakah seseorang akan mencariku.     
Nggak mau menghilang sambil diam-diam menunggu ada yang bertanya kenapa aku berubah.
Nggak mau menjadikan ketidakhadiranku sebagai semacam ujian untuk mengetahui apakah aku berarti bagi seseorang.

Kalau aku benar-benar ingin melepaskan, aku harus belajar pergi tanpa terus-terusan menoleh untuk melihat siapa yang menyadarinya.

Dan jujur, bagian itu mungkin yang paling sulit.

Karena selama ini, mungkin tanpa sadar aku masih ingin membuktikan bahwa aku layak dipilih. Bahwa aku bisa menjadi teman yang baik, orang yang menyenangkan, seseorang yang pantas dipertahankan. Seolah-olah kalau aku cukup baik, cukup perhatian, cukup memahami, pada akhirnya orang-orang akan memperlakukanku sebagaimana aku memperlakukan mereka.

Padahal hidup nggak sesederhana itu.

Kita bisa menjadi teman yang baik dan tetap nggak dipilih.     
Kita bisa tulus dan tetap nggak dianggap sedekat yang kita harapkan.
Kita bisa melakukan banyak hal dengan niat baik, lalu tetap berakhir kecewa.

Dan itu nggak selalu berarti ada yang salah dengan diri kita.

Mungkin memang ada hubungan yang nggak cocok untuk dipertahankan.     
Ada orang-orang yang cukup kita kenal, cukup kita temani untuk sementara, lalu kita biarkan menjadi bagian dari masa lalu. Bukan karena semua kenangan bersama mereka buruk, melainkan karena kenangan baik saja nggak cukup untuk membuat kita terus bertahan dalam hubungan yang membuat kita merasa buruk tentang diri sendiri.

Aku nggak perlu membenci seseorang untuk memutuskan bahwa aku nggak mau lagi sedekat dulu dengannya.

Aku juga nggak perlu membuktikan bahwa dia orang yang buruk.

Cukup dengan mengakui bahwa bagiku: pertemanan ini sudah nggak terasa berbalas.

Dan aku ingin berhenti memaksa diri mencari penjelasan yang mungkin nggak akan pernah ditemukan.

Aku ingin punya hari-hari ketika aku bangun tidur tanpa langsung mengingat apa yang membuatku kecewa. Aku ingin bisa pergi ke suatu tempat tanpa membayangkan kemungkinan bertemu seseorang. Aku ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman tanpa sibuk membandingkan seberapa besar aku menganggap mereka penting dan seberapa besar mereka menganggapku penting.

Aku ingin hidupku kembali terasa seperti milikku sendiri.

Bukan berarti setelah ini aku akan langsung baik-baik saja. Mungkin besok aku masih kepikiran. Minggu depan mungkin aku masih kesal. Bisa jadi suatu hari aku kembali mengingat semuanya dan bertanya-tanya kenapa harus berakhir seperti ini.

Ya sudah. Nggak apa-apa.

Aku nggak harus langsung ikhlas. Aku cuma harus berhenti menjadikan rasa kecewa ini sebagai alasan untuk terus kembali kepada sesuatu yang sudah separuh kutinggalkan.

Karena sak jujure, aku sudah cukup lama merasa bahwa: aku nggak sepenting itu bagi orang-orang yang kuanggap penting.

Dan aku nggak ingin menghabiskan sisa waktuku tahun ini dengan terus-menerus membuktikan apakah perasaan itu benar.

Aku ingin belajar bahwa diriku tetap berharga, bahkan ketika seseorang nggak memilihku. Bahwa aku tetap bisa punya kehidupan yang menyenangkan, pertemanan yang hangat, dan pengalaman-pengalaman baru tanpa harus menunggu orang-orang lama menyadari apa yang mereka lewatkan.

Aku ingin membuka ruang untuk hal-hal baru, bukan sebagai pelarian, bukan untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja, tetapi karena hidupku memang terlalu luas untuk terus dihuni oleh kekecewaan yang sama.

Jadi, kalau sekarang aku memilih menjauh, biarlah dan biarkan aku menjauh.

Aku nggak pingin menjelaskan. Nggak ingin berdebat. Nggak ingin menunggu permintaan maaf yang belum tentu datang. Dan nggak ingin terus menyusun pidato di kepala untuk percakapan yang bahkan nggak akan terjadi.

Aku sudah tahu apa yang kurasakan.

Aku tahu apa yang membuatku kecewa.

Aku tahu bahwa aku nggak ingin lagi mempertahankan pertemanan ini seperti dulu.

Untuk apa terus mengulang semuanya di kepala?

Wes, Mad. Wes cukup.

Aku nggak harus memenangkan argumen yang bahkan nggak pernah terjadi. Aku nggak harus membuat seseorang mengerti agar aku bisa pergi. Dan aku nggak harus menunggu sampai rasa sakit ini benar-benar hilang untuk mulai memilih diriku sendiri.

Kali ini, aku ingin berhenti mengusahakan tempat di hidup orang lain, lalu mulai menyediakan tempat untuk diriku sendiri.

Bukan supaya mereka sadar.

Bukan supaya mereka menyesal.

Bukan supaya suatu hari nanti mereka datang dan mengatakan bahwa aku ternyata penting.

Aku ingin melakukannya karena aku juga penting bagi diriku sendiri.

Dan untuk sekarang, semoga itu cukup.