bilik telepon koin perempatan
Slop hitamnya berdebu menungguku
di balik bilik telepon koin perempatan
rasa marahnya mengalahkan gelisah
pria sialan, umpatnya.
Tadi pagi poninya sudah ia tata,
berulang kali ia berkaca merias wajah
nanti sore aku jemput di bilik, janji prianya
matahari telah tidur, kecewa baru bangun
sialan… sialan…, jengkelnya.
Lalu ia kembali ke rumah dengan pilu,
berharap pria itu datang memohon ampun
setiap bintang jatuh ia menunggu
hanya sebuah pesan yang datang: ‘maaf ketiduran’
Sialan.
Sialan!
Dasar pria sialan!