Teman seorang teman
Pertama kali aku sadar akan batas yang dia tanda,
aku sudah terbentur di pintu yang sama berkali-kali
ternyata, yang kurasa selama ini benar.
aku hanya sekadar teman dari seorang teman.
Kedua kalinya aku menolak menyerah,
malaikat memalingkan wajah melihatku berdarah
seorang keras kepala yang ingin dianggap ada
meskipun aku sekadar teman dari seorang teman.
Terakhir, kepercayaan ini sudah memar
sedikit demi sedikit belajar arti kekalahan
dari sebuah perang yang kubuat-buat sendiri
dan menerima jika aku hanya sekadar teman dari seorang teman.
Bukan teman.
Tapi teman dari seorang teman.
Hanya itu.